WELCOME TO MY BLOG

Powered By Blogger

Sabtu, 23 Juli 2011

Tentang Tembang Macapat

Tembang atau sekar yaitu kumpulan kata dengan aturan yang dibaca menggunakan lagu laras atau nuansa slendro-pelog. Pada Serat Mardawa Lagu karangan R. Ng. Ronggo Warsito dijabarkan bahwa khususnya Jawa Tengah ada 4 jenis tembang, yaitu
1) membaca sa-lagu yang digolongkan dalam tembang gedhe kapisan,
2) membaca ro-lagu yang digolongkan dalam tembang gedhe kapindho,
3) membaca tri-lagu yang digolongkan dalam tembang tengahan,
4) membaca pat-lagu yang digolongkan tembang cilik. Membaca pat-lagu atau tembang cilik lebih dikenal dengan sebutan tembang macapat.

Macapat yaitu sastra berwujud puisi yang menggunakan bahasa Jawa baru dan terikat dengan aturan-aturan:
1) guru gatra, yaitu jumlah baris tiap satu bait,
2) guru lagu, yaitu jatuhnya huruf vokal di akhir baris, dan
3) guru wilangan, yaitu jumlah suku kata tiap baris.

Saputra (2001: 2) menyatakan bahwa macapat adalah puisi yang terikat oleh aturan persajakan dan mengandung laras dan lagu. Macapat tidak hanya ditemukan di daerah Jawa Tengah, tetapi juga hidup dan berkembang di Jawa Timur, Jawa Barat, Lombok, dan Bali. Di Jawa tengah ada 3 daerah berkembangnya tembang macapat dengan cengkoknya masing-masing yaitu Surakarta, Banyumas, dan Semarang yang lazim disebut dengan Surakartan, Banyumasan, dan Semarangan. Tembang macapat terdiri dari:

Mijil
Mijil berwatak cinta, prihatin. Cocok untuk memberikan pendidikan/ pengajaran, rasa cinta kasih.

Sinom
Sinom bersifat lincah, “ethes”, “canthas”. Cocok untuk melukiskan suasana kelincahan, berpidato, nasihat.

Kinanthi
Kinanthi bersifat senang, cinta kasih. Cocok untuk memberikan pendidikan/ pengajaran, rasa cinta kasih.

Asmaradana
Asmaradana berwatak sedih, cinta asmara. Cocok untuk menggambarkan hal-hal yang mengandung kesedihan cinta asmara.
Sinom bersifat lincah, “ethes”, “canthas”. Cocok untuk melukiskan suasana kelincahan, berpidato, nasihat.

Dhandhanggula
Dhandhanggula berwatak luwes, menyenangkan. Sesuai untuk mengungkapkan segala hal/ keadaan.

Pangkur
Pangkur bersifat keras, bergairah (“kereng, nepsu”), cocok untuk memberikan nasihat yang keras, cinta berapi-api, cerita hal-hal yahng bersifat keras.

Durma
Durma berwatak keras, marah, bergairah. Cocok untuk mengungkapkan kemarahan, cerita perang, perasan jengkel.

Pocung
Pocung berwatak “ gregeten kendho “, lucu agak menggelikan, sesuka hati. Cocok untuk menggambarkan hal-hal yang kurang bersungguh-sungguh, seenaknya.

Gambuh
Gambuh “sumanak, sumadulur”, kekeluargaan. Cocok untuk pengungkapan hal-hal yang bersifat keluargaan, nasihat, kependidikan yang mengandung kesungguhan hati.

Megatruh
Megatruh bersifat sedih, prihatin, “getun”, menyesal. Cocok untuk cerita yang mengandung rasa penyesalan, prihati, sedih.

Maskumambang
Maskumambang “nlangsa”, sedih, memilukan. Cocok untuk melukiskan perasaan sedih, memilukan hati.


Tembang macapat mempunyai makna yang beragam. Paling tidak ada 7 alasan karya sastra disebut macapat, antara lain:
1. Maca papat-papat, yaitu membaca dalam tiap baris dengan dipenggal tiap 4 suku kata. Contoh: ngelmu iku (4), kalakone (4), kanthi laku (4), setya budya (4), pangekese (4), du rangkara (4).
2. Manca-pat, yaitu isi tembang menceritakan tentang kejadian pada keblat papat lima pancer.
3. Manca-pat dari panca-arpat, 5 sandhangan atau guru lagu, yaitu a (legena), i (wulu), u (suku), e (taling), dan o (taling tarung), --e (pepet).
4. Maca cepet, yaitu membaca dengan irama cepat, tidak banyak luk dan kembangan suara, isi tembang dapat terdengar dengan jelas.
5. Macakep, metatesis menjadi macapat yaitu membaca lirik.
6. Maca mat, yaitu membaca dengan cermat.
7. Maca-pat, yaitu membaca tembang yang ke-4 atau tembang cilik.

Doaku Untuknya

karya: Revika Nurul F

Tuhanku Yang Maha Mencinta

Anugerahilah dia yang di sana
Dengan cinta yang setia

Berikanlah dia yang di sana
Dengan kasih-Mu yang sempurna

Ridhoilah hidupnya yang di sana
Sampai ajal menjemputnya

Amiinn


Jumat, 06 Mei 2011

The Raja Ampat Islands

The Raja Ampat, or "Four Kings," archipelago encompasses more than 9.8 million acres of land and sea off the northwestern tip of Indonesia's West Papua Province. Located in the Coral Triangle, the heart of the world's coral reef biodiversity, the seas around Raja Ampat possibly hold the richest variety of species in the world. The area's massive coral colonies show that its reefs are resistant to threats like coral bleaching and disease -threats that now jeopardize the survival of corals around the world. In addition, Raja Ampat's strong ocean currents sweep coral larvae across the Indian and Pacific Oceans to replenish other reef ecosystems. Raja Ampat's coral diversity, resilience to threats, and ability to replenish reefs make it a global priority for marine protection.

Survey Confirms Highest Marine Biodiversity on EarthIn 2002, The Nature Conservancy and its partners conducted a scientific survey of the Raja Ampat Islands to collect information on its marine ecosystems, mangroves, and forests. The survey brought Raja Ampat's total number of confirmed corals to 537 species- an incredible 75% of all known coral species. In addition, 899 fish species were recorded, raising the known total for Raja Ampat to an amazing 1,074. On land, the survey found lush forests, rare plants, limestone outcroppings, and nesting beachesfor thousands of sea turtles. Though human impacts here are less severe than elsewhere in Indonesia, Raja Ampat's natural resources are endangered by over fishing and destructive fishing, turtle poaching, and unsustainable logging. The Indonesian government recently established Raja Ampat as a separate administrative unit, which will give communities a greater say in managing the natural resources upon which their livelihoods depend. This structure also offers an important opportunity to include conservation in the spatial planning of the newly formed local government.
Ensuring Conservation through PartnershipsTo address these issues, the Conservancy launched a new project to protect Raja Ampat, working in close partnership with the government and communities to: 1) contribute to a comprehensive conservation action plan to protect Raja Ampat's reefs and forests; 2) help incorporate marine protected area management into long-term planning and policy; and, 3) establish a network of marine protected areas for Raja Ampat. The Conservancy's ultimate goal is to protect Raja Ampat's magnificent reefs while sustaining the livelihoods of local people. Raja Ampat includes the four large islands of Waigeo, Batanta, Salawati, and Misool, plus hundreds of smaller islands. The archipelago is part of an area known as the Bird's Head functional seascape, which also contains Cenderawasih Bay, the largest marine national park in Indonesia.